[Review Buku] : The Darkest Mind "Pikiran Terkelam"


Judul                           : The Darkest Minds (The Darkest Minds #1)
Judul Terjemahan        : Pikiran Terkelam
Penulis                         : Alexandra Bracken
Penerjemah                  : Lulu Fitri Rahman
Penerbit                       : Fantasious
Terbit                           : Cetakan pertama, 2014
Tebal                           : 584 halaman
Rating                         : 3/5

Blurb
Ketika Ruby bangun pada ulang tahunnya yang kesepuluh, sesuatu tentang dirinya telah berubah. Sesuatu yang cukup mengkhawatirkan untuk membuat orangtuanya mengunci dirinya di garasi dan mencoba menelpon polisi. Sesuatu yang membuat dirinya dikirim ke Thourmond, “kamp rehabilitasi” milik pemerintah yang kejam. Dia mungkin telah selamat dari penyakit misterius yang membunuh sebagian besar anak-anak Amerika, tapi dia dan anak-anak lainnya harus berhadapan dengan sesuatu yang jauh lebih buruk: kemampuan menakutkan yang tidak dapat mereka kendalikan.
Di Thourmond, semua anak-anak dikelompokkan menjadi lima warna sesuai kemapuan mereka. Hijau, Biru, Merah, Kuning, dan Oranye. Saat sampai di Thourmond, Ruby masuk dalam kelompok Hijau. Tapi benarkah warna Ruby adalah Hijau?

Review
Salah satu buku yang mengangkat genre dystopian, genre yang sepertinya sedang hits dikalangan penulis-penulis luar. Walaupun tema yang dibawakan Alexandra Bracken bukan sesuatu yang baru, tapi beberapa elemen-elemen dalam ceritanya masih fresh. Meski genre utamanya adalah dystopian, penulis tidak menuturkan secara jelas tahun yang menjadi latar terjadinya cerita ini.
Kisah Ruby disini diceritakan melalui sudut pandang orang pertama. Tipikal cerita yang kebanyakan narasi dibanding  percakapannya. Walaupun diceritakan melalui sudut pandang Ruby, bukan berarti pembaca dengan mudah mengetahui identitas Ruby. Karena bahkan Ruby pun sebenarnya tidak mengerti mengenai kemampuan yang dimilikinya. Jadi selama cerita para pembaca juga menebak-nebak jenis kekuatan yang sebenarnya dimiliki oleh Ruby, mengapa saat pengelompokan Ruby bisa masuk di kelompok Hijau, bagaimana Ruby bisa sampai di Thourmond, dll
Untuk ukuran buku yang melebihi 500 halaman, saya rasa The Drakest Mind bisa dikatakan sebagai buku yang bertele-tele. Cara penceritaannya yang bertele-tele (bukan rinci) membuat saya sempat merasa bosan di beberapa bagian terutama cerita pejalanan Ruby, Liam, Chubs, dan Zu. Bahkan dengan banyak halaman seperti itu, ternyata tidak bisa membuat klimaks dari ceritanya menjadi sesuatu yang begitu mengagumkan. Entahah, setelah part klimaks selesai dibaca, saya hanya bisa bergumama “oh, gitu aja?” XDDD walaupun bagian akhirnya cukup bagus karena ternyata memiliki akhir yang tak terduga, tetap membuat saya berpikir untuk melanjutkan baca buku keduanya. Padahal SANGAT banyak pertanyaan ngambang setelah baca buku satunya. Seperti kenapa hanya anak-anak yang bisa terjangkit?, kenapa hanya di Amerika, CLANCY APA KABAR????



Komentar